Pojok Opini: Gaya Mengajar Guru dalam Pendekatan Sosiologis

·

·

Oleh: Sufiani, S. Ag, M. Pd. I

Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Kengari, Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Kendari, Anggota Komisi Pengkajian, Penelitian, dan Pengembangan MUI Provinsi Sultra, Anggota Pengurus DPD Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam Kota Kendari

Gaya mengajar guru dalam pendekatan sosiologis merupakan refleksi dari kesadaran bahwa proses pendidikan tidak pernah berlangsung dalam ruang yang netral, melainkan selalu dipengaruhi oleh dinamika sosial, budaya, dan struktur masyarakat. Dalam perspektif ini, pembelajaran tidak hanya bertujuan untuk mentransfer pengetahuan, tetapi juga untuk membentuk individu yang mampu berinteraksi secara efektif dalam kehidupan sosialnya.  Gaya mengajar guru perlu mempertimbangkan konteks sosial peserta didik, termasuk latar belakang keluarga, budaya, nilai-nilai yang dianut, serta lingkungan masyarakat tempat mereka hidup.

Pendekatan sosiologis memandang sekolah sebagai institusi sosial yang memiliki peran strategis dalam proses sosialisasi. Guru, dalam hal ini, tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai agen sosial yang turut membentuk pola pikir, sikap, dan perilaku peserta didik. Gaya mengajar yang diterapkan guru akan sangat menentukan bagaimana peserta didik memahami realitas sosial dan menempatkan diri mereka di dalamnya.  Gaya mengajar guru yang sensitif terhadap keberagaman sosial menjadi sangat penting untuk menciptakan pembelajaran yang inklusif dan adil.

Salah satu ciri utama gaya mengajar dalam pendekatan sosiologis adalah kemampuannya untuk mengakomodasi keberagaman peserta didik. Dalam satu kelas, sering kali terdapat perbedaan latar belakang ekonomi, budaya, agama, bahkan bahasa. Guru yang menggunakan pendekatan sosiologis akan berusaha menciptakan suasana pembelajaran yang menghargai perbedaan tersebut sebagai kekayaan, bukan sebagai hambatan. Hal ini dapat dilakukan melalui penggunaan metode diskusi, kerja kelompok, serta pembelajaran kolaboratif yang memungkinkan peserta didik saling belajar dan memahami perspektif satu sama lain.

Selain itu, gaya mengajar guru dalam pendekatan sosiologis juga menekankan pentingnya interaksi sosial dalam proses pembelajaran. Belajar tidak hanya terjadi melalui hubungan antara guru dan peserta didik, tetapi juga melalui interaksi antar peserta didik. Oleh karena itu, guru perlu merancang aktivitas pembelajaran yang mendorong terjadinya komunikasi, kerja sama, dan pertukaran ide. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam konteks ini, guru juga perlu peka terhadap isu-isu sosial yang berkembang di masyarakat. Gaya mengajar guru yang kontekstual dan relevan dengan realitas sosial akan membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna. Misalnya, guru dapat mengaitkan materi pelajaran dengan fenomena sosial seperti kesenjangan ekonomi, toleransi antar umat beragama, atau perkembangan teknologi dan dampaknya terhadap kehidupan sosial. Dengan cara ini, peserta didik diajak untuk berpikir kritis dan reflektif terhadap kondisi sosial di sekitarnya.

Namun demikian, penerapan gaya mengajar guru dalam pendekatan sosiologis tidak selalu berjalan dengan mudah. Salah satu tantangan yang sering dihadapi adalah adanya perbedaan nilai dan norma antara sekolah dan lingkungan masyarakat. Dalam beberapa kasus, nilai-nilai yang diajarkan di sekolah mungkin tidak sejalan dengan praktik yang terjadi di masyarakat. Hal ini menuntut guru untuk memiliki kemampuan komunikasi yang baik serta sikap yang bijaksana dalam menyikapi perbedaan tersebut. Guru perlu menjadi jembatan yang mampu menghubungkan nilai-nilai pendidikan dengan realitas sosial secara konstruktif.

Selain itu, faktor budaya sekolah juga sangat mempengaruhi gaya mengajar guru. Sekolah yang memiliki budaya terbuka dan demokratis cenderung mendorong guru untuk mengembangkan gaya mengajar yang partisipatif dan dialogis. Sebaliknya, sekolah yang bersifat hierarkis dan kaku dapat membatasi kreativitas guru dalam mengelola pembelajaran. Pengembangan gaya mengajar dalam pendekatan sosiologis tidak hanya menjadi tanggung jawab individu guru, tetapi juga memerlukan dukungan dari sistem dan lingkungan sekolah.

Di era globalisasi, pendekatan sosiologis menjadi semakin relevan. Peserta didik tidak hanya berinteraksi dengan lingkungan lokal, tetapi juga dengan budaya global melalui media digital. Hal ini menuntut guru untuk mengembangkan gaya mengajar yang mampu membekali peserta didik dengan kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, dan memiliki sikap toleran terhadap perbedaan. Gaya mengajar yang mengintegrasikan nilai-nilai lokal dengan wawasan global akan membantu peserta didik menjadi individu yang memiliki identitas yang kuat sekaligus terbuka terhadap perubahan.

Dalam konteks pendidikan agama, pendekatan sosiologis memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai moral dan sosial. Gaya mengajar guru perlu menekankan pentingnya sikap saling menghormati, toleransi, dan kepedulian terhadap sesama. Pembelajaran tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga pada pembentukan karakter sosial peserta didik. Dengan demikian, pendidikan agama dapat berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang harmonis dan berkeadaban.

Gaya mengajar guru dalam pendekatan sosiologis merupakan upaya untuk menjadikan pembelajaran lebih relevan dengan kehidupan sosial peserta didik. Gaya mengajar yang inklusif, kontekstual, dan partisipatif akan membantu peserta didik tidak hanya memahami materi pelajaran, tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial yang penting. Oleh karena itu, guru perlu terus meningkatkan kepekaan sosial dan kemampuan pedagogisnya agar dapat menghadirkan pembelajaran yang bermakna dan berkontribusi terhadap pembentukan masyarakat yang lebih baik.

Editor: Ghifari